Tampilkan postingan dengan label Islamphobia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamphobia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2016

Ini Alasan Kenapa Metro Tv Sangat Benci Islam

PERAWANGPOS -- Publik tahu mengenai tingkah laku Metro TV yang rasis, cenderung memihak kelompok dan golongan tertentu, serta amat sangat memusuhi umat Islam. Namun, akhirnya alasan di balik semua itu terungkap.

Berikut alasannya:

1. MetroTV bukan milik Surya Paloh

Sebagian besar rakyat mengira bahwa Metro TV adalah milik Surya Paloh. Namun kenyataannya tidak demikian. Metro TV adalah milik James Riady dan Antony Salim. Metro TV adalah milik PT.Media Televisi Indonesia (MTI) dan MTI adalah anak perusahaan dari PT. Multipolar, Lippo grup. LIPPO GRUP adalah kerajaan bisnis James Riady, seorang agen china military intellegency (hasil investigasi otoritas AS atas Lippogate).

Kenapa Lippo Grup sangat eksis di Indonesia?

Lippo dibantu Global China Resources Ltd, sebuah _Perusahaan kedok China Military Intelligence,_ Lippo juga dibantu oleh Salim Grup. Ayah James, yaitu Muchtar Riady adlh mantan Dirut Bank BCA saat dimiliki Salim Grup. Sehingga bisa dikatakan bahwa Lippo dan Salim adalah sekutu.

Jadi, jangan heran jika Surya Paloh tidak punya kuasa dan kewenangan sediktpun dalam menentukan kebijakan dan arah Metro TV. Pemberitaan atau redaksi Metro TV semua bersumber dan atas persetujuan dari James Riady.

2. Agenda Politiknya : Sekulerisasi Indonesia dan Hancurkan Islam

Jajaran Direksi PT Media Televisi Indonesia, berisikan mayoritas cina, mayoritas non muslim, kecuali Surya Paloh yang dijadikan sebagai tameng, bumper, pengelabuan publik dan kamuflase konspirasi jahat terhadap Islam. Siaran Metro TV ditentukan oleh Pemrednya:

Elman Saragih
Laurens Tato
Putra Nababan
Andi F. Noya
Saur Hutabarat

Mereka non Muslim semua.

Apakah itu SARA? Tidak! Tidak boleh menuduh SARA kepada non muslim. Hanya muslim dan umat Islam yg boleh dituduh SARA, itu protapnya. Hanya umat Islam Indonesia yang perilakunya SARA, RASIS, Diskriminatif, Teroris. Non Islam tak boleh dituduh seperti itu. Tidak boleh !!!

Sama seperti perusahaan-perusahaan Lippo, Salim, Sinar Mas, Gemala Grup dll. Semua perusahan konglo cina ini perlakukan Islam = sampah Kelas III. Apalagi di Gemala & Wahana Tata Grup milik keluarga Wanandi, tidak ada karyawan muslim yg ditunjuk jadi direksi, GM, dsb. Islam sama dengan kusta … itulah Metro TV. yg di dalamnya banyak konspirasi jahat utk memerangi kita!

Demi kebaikan Muslim, tinggalkan Metro TV. Jangan tonton acaranya, agar ratingnya rendah. terlalu keji Ia memusuhi Islam & Muslimin sejak 2012 lalu.

Sumber: (yesmuslim)

Jumat, 14 Oktober 2016

Tiga Tuntutan Pendemo Atas Ahok

PERAWANGPOS -- Ribuan pendemo dari Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) sempat mendatangi Badan Reserse Kriminal Mabes Polri sebelum mengepung Balai Kota. Di Bareskrim, para pendemo melaporkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menyelidiki dan memidanakan Ahok.

Selain GMJ, unjuk rasa juga diikuti oleh sejumlah ormas Islam lain seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Penyelamat Jakarta (MPJ). Ribuan orang tumpah ruah di jalanan yang menjadi rute perjalanan para pendemo.

Dalam rilis yang diterima, ada tiga sangkaan dari para pendemo yang intinya menyebut Ahok telah menghina atau menyakiti umat Islam. 

Ketiga sangkaan itu adalah, pertama, Ahok telah menyatakan pembohongan Alquran Surat Al-Maidah ayat 51.

Kedua, Ahok melarang pedagang kambing/sapi dari luar daerah berdagang di Jakarta pada Hari Raya Idul Adha dengan alasan mengotori lingkungan.

"Sehingga kami umat Islam DKI sulit untuk membeli kambing atau sapi untuk hewan kurban kami umat Islam," demikian rilis pernyataan dari para pendemo.

Sangkaan ketiga adalah kebijakan Ahok memperbolehkan penjualan minuman keras (bir). "Padahal, MUI telah membuat fatwa untuk melarang minuman keras diperjualbelikan, karena berdampak negatif bagi generasi bangsa Indonesia."

Dari ketiga sangkaan itu, para pendemo meminta kepolisian untuk memidanakan Ahok yang saat ini tengah maju di Pilkada DKI Jakarta.

Sumber : CNN

Rabu, 12 Oktober 2016

Nusron Purnomo, 8 Menit Bicara, 8 Kesalahan Fatal

PERAWANGPOS -- Meskipun dengan gaya Arogan mengklaim “saya sampaikan ini dengan kebenaran”, ternyata sejak awal bicara di ILC, banyak kesalahan dalam ucapan Nusron Wahid.

8 menit bicara, ternyata ada 8 kesalahan Nusron Wahid. Rata-rata ada satu kesalahan pada setiap menit.

1. Umat Islam Biasa Salah Paham atau Pahamnya Salah.

Di awal paparannya, Nusron Wahid mengatakan: “Umat Islam ini memang biasa ramai. Ramainya umat Islam selalu disebabkan oleh dua hal; kalau nggak salah paham ya pahamnya salah” Benarkah umat Islam biasa ramai dalam konotasi negatif? Dan ramainya karena salah paham atau pahamnya salah? Seakan-akan umat Islam jarang benar. Mari kembali membaca sejarah. Sejak zaman Rasulullah, umat Islam membalikkan kondisi zaman dari zaman jahiliyah menuju peradaban yang gemilang. Ketika Eropa masih mengalami masa kegelapan (dark age), umat Islam telah mencapai kemajuan dan kejayaan; mulai dari perekonomian hingga sains. Di Indonesia, Islam masuk dan menyebar dengan cepat melalui dakwah damai Wali Songo. Bukan dibawa oleh penjajah dan tanpa kekerasan. Lalu ketika ada penjajahan, dengan diiringi takbir, umat Islam-lah yang mengusir penjajah. Hingga saat ini, kaum minoritas juga terlindungi oleh umat Islam di Indonesia. Berbeda jauh dengan negeri-negeri yang ketika umat Islam minoritas, lalu terzalimi seperti di Rohingya.

2. Teks apa pun bebas tafsir

Selanjutnya Nusron Wahid mengatakan: “Saya ingin menegaskan di sini, yang namanya teks apapun itu bebas tafsir. Bebas makna. Yang namanya Al Quran yang paling sah untuk menafsirkan, yang paling tahu tentang Al Quran itu sendiri adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Bukan Majelis Ulama Indonesia.” Teks apa pun bebas tafsir? Lalu yang dimaksud adalah, Al Quran bebas tafsir sehingga siapa pun bebas menafsirkannya karena yang paling tahu tentang Al Quran adalah Allah dan RasulNya? Justru karena yang paling tahu tentang Al Quran adalah Allah dan RasulNya, maka Al Quran tidak bebas tafsir dan tidak bebas makna. Tetapi tafsirnya harus sesuai dengan firman Allah (Al Quran) dan sabda Rasulullah (hadits). Dan yang paling tahu tentang Al Quran dan hadits adalah para ulama. Bukan sembarang orang. Dan karenanya ada syarat yang berat bagi seseorang (ulama) yang ingin menjadi mufassir Al Quran. Tidak lantas dengan alasan bebas tafsir siapapun boleh menafsirkan lalu tidak ada benar dan salah. Sampai-sampai Ibnu Katsir mencantumkan hadits ini di muqaddimah tafsirnya:

Dalam hadits disebutkan,
مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” (HR. Tirmidzi)

3. MUI harus tabayun dengan memanggil Ahok

Nusron Wahid dengan melotot menyebut MUI harusnya tabayun dengan memanggil Ahok sebelum mengeluarkan sikap resmi. Benarkah setiap non muslim yang melecehkan Islam harus ditanya apa maksud sesungguhnya ketika dia mengucapkan kata-kata itu? Ternyata tidak. Ketika Abu Lahab melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada Rasulullah, Allah tidak memerintahkan Rasulullah memanggilnya untuk tabayun. Namun Allah langsung menurunkan surat Al Lahab. Ketika orang-orang Yahudi di Madinah berkhianat, mereka juga tidak dipanggil oleh Rasulullah untuk ditanya apakah maksud mereka berkhianat. Karena tentu mereka akan mengelak.

4. Yalunahum yalunahum yalunahum yalunahum

Nusron Wahid mengatakan: “Untuk membuktikan apa yang saya sampaikan, saya ingin mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi pernah mengatakan, khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum yalunahum yalunahum yalunahum.” Nusron Wahid mengatakan itu dengan maksud menunjukkan bahwa di zaman khalifah Abbasiyah ada gubernur non muslim dan ia mengklaim zaman itu zaman terbaik. Adakah hadits seperti yang disebutkan Nusron Wahid itu? Yang ada adalah “khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum” menunjukkan bahwa sebaik-baik masa adalah masa Rasulullah (sahabat), kemudian masa tabi’in dan kemudian masa tabi’ut tabi’in.

5. Gubernur non muslim pada masa Abbasiyah

Nusron Wahid menceritakan bahwa pada masa Abbasiyah, Khalifah ke-16 Al Mu’tadid Billah menunjuk non muslim (Kristen) bernama Umar bin Yusuf menjadi Gubernur di Irak. Dengan contoh ini, Nusron ingin menunjukkan bahwa boleh memilih gubernur non muslim. “Apakah di waktu itu tidak ada Surat Al Maidah 51? Apakah pada masa itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan Al Maidah? Mohon maaf, apakah ulama-ulama yang pada masa itu, kalah shalih kalah alim dengan ulama-ulama hari ini?” kata Nusron sambil melotot. Mestinya, jika Nusron Wahid konsisten dengan hadits yang ia kutip (khairul quruuni qarni tsummal ladziina yaluunahum tsummal ladziina yaluunahum), cukuplah itu menjadi jawaban. Bukankah Umar bin Khattab pernah menyuruh Abu Musa Al Asy’ari memecat sekretarisnya karena ia Nasrani lalu Umar membaca Surat Al Maidah ayat 51? Lalu kisah pemecatan ini diabadikan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Mana yang lebih baik, masa Umar yang merupakan masa sahabat atau masa daulah Abbasiyah? Jika Nusron Wahid konsisten, jawaban atas pertanyaan ini akan membuatnya malu untuk berteriak-teriak di depan ulama. 

6. Syariat Islam dihormati dalam ranah privat

Apakah pernyataan bahwa syariat Islam harus dihormati dalam ranah privat bukan merupakan bagian dari propaganda sekulerisme? Bukankah dalam ranah publik pun syariat Islam juga harus dihormati? Kalaupun benar syariat Islam harus dihormati (hanya) dalam ranah privat, mengapa Nusron Wahid mempersoalkan orang yang tidak memilih Ahok dengan alasan Surat Al Maidah ayat 51? Bukankah itu privasi orang tersebut?

7. Ayat Al Maidah tidak ada kaitannya dengan politik

Nusron Wahid mengatakan, “Ayat Al Maidah (51) tidak ada kaitannya dengan politik” Apakah kaitannya dengan ekonomi? He he

8. Al Maidah 51 multi tafsir

Nusron Wahid mengatakan, "Al Maidah 51 multi tafsir" Cobalah buka tafsir-tafsir yang menjadi rujukan umat Islam? Mulai dari Ibnu Katsir, Ath Thabari, Al Maraghi, hingga Fi Zhilalil Quran dan Tafsir Al Azhar. Di manakah letak multi tafsirnya? [Pp]

Sumber : TribunIslam

Sabtu, 08 Oktober 2016

Ahok Lecehkan Alquran, Pendeta Gilbert Ikut Panaskan Suasana

PERAWANGPOS -- Pendeta Gilbert Lumoindong memuji sikap Bareskrim Mabes Polri yang kabarnya menolak laporan masyarakat terkait penistaan agama yang dilakukan cagub DKI Petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Di satu sisi, pemikir Islam Muhammad Ibnu Masduki, menyesalkan sikap Pendeta Gilbert tersebut. Di mana, semua pihak menahan diri untuk tidak ikut terpancing isu “penistaan Ahok kepada agama Islam”, Gilber yang non Muslim justru ikut memanaskan suasana dengan mengomentari kasus Ahok.

“Pendeta Gilbert memuji sikap polisi yang menolak aduan masyarakat terkait pelecehan Al Qur’an oleh Ahok. Pada situasi saat ini, pernyataan Gilbert itu sama saja dengan memprovokasi konflik SARA,” kata Ibnu Masduki kepadaintelijen (07/10).

Menurut Ibnu Masduki, tidak sedikit warga non Muslim yang mengecam pernyataan Ahok yang menyinggung Surat Al Maidah 51. “Mantan Pangdam DKI Jaya Letjen (Purn) Johanes Suryo Prabowo yang seorang Katolik saja mengkritik sikap Ahok. Tokoh Tionghoa Lieus Sungkharisma, Zeng Wei Jian juga menilai Ahok telah melecehkan Al Qur’an,” papar Ibnu Masduki.

Ibnu Masduki menduga, Pendeta Gilbert Lumoindang mempunyai kepentingan menaikkan elektabilitas Ahok. “Biar umat Islam tersulut emosi dan anarkis, maka Ahok yang minoritas akan mendapat panggung bahkan di dunia internasional,” papar Ibnu Masduki.

Tak hanya itu, kata Ibnu Masduki, sikap yang ditunjukkan Pendeta Gilbert itu akan semakin memperuncing hubungan antara Islam dan nonIslam. “Padahal temen-teman non Islam ada yang akan melaporkan pelecehan Ahok ke kepolisian,” pungkas Ibnu Masduki.

Sebelumnya, Pendeta Gilbert Lumoindong ‘menyanjung’ pihak Bareskrim Mabes Polri yang menolak laporan masyarakat terkait penistaan Agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

“Hidup Polisi, Polisi tidak mau diseret-seret ke urusan Politik,” kata Gilbert Lumoindong di akun Twitter- @pastorGilbertL. @pastorGilbertL mengomentari tulisan bertajuk “Bareskrim Tolak Laporan Penistaan Agama Ahok”, Jumat (07/10).

Sumber : Intelijen

Jumat, 07 Oktober 2016

Ngawur... Bareskrim Tolak Laporan Dugaan Penistaan Agama Oleh Ahok


PERAWANGPOS -- Pengamat Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra menilai, polisi wajib meneruskan laporan tentang dugaan penistaan agama yang dilakukan Bakal calon Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok). Menurut dia, alasan polisi menolak laporan tersebut sangat tidak masuk akal.

Yusril menjelaskan, Bareskrim Mabes Polri wajib menerima laporan masyarakat tentang dugaan terjadinya tindak pidana penistaan agama dalam suatu acara di Kepulauan Seribu beberapa hari yang lalu.

"Menolak menerima laporan dengan alasan tidak ada fatwa MUI adalah alasan yang mengada-ada dan tidak berdasarkan hukum sama sekali," jelas Yusril dalam keterangan tertulis, Jumat (7/10).

Menurut Yusril, setiap orang yang datang melapor, wajiblah dituangkan dalam berita acara laporan yang isinya antara lain adalah identitas pelapor, terlapor, tindak pidana yang diduga telah dilakukan, locus dan tempus delicti, serta saksi-saksi yang mengetahui dugaan tindak pidana yang dilaporkan.

"Laporan tersebut haruslah ditindaklanjuti dengan penyelidikan untuk menyimpulkan benar tidaknya telah terjadi tindak pidana sebagaimana dilaporkan. Untuk memastikan apakah perbuatan yang dilaporkan tersebut memenuhi unsur tindak pidana atau tidak, penyelidik dapat meminta keterangan ahli.

Dalam konteks inilah, kata dia, apakah ucapan terlapor Gubernur DKI termasuk penistaan atau tidak, penyelidik dapat meminta MUI untuk menerangkannya. Jadi bukan setelah ada fatwa MUI baru polisi dapat menerima laporan dari pelapor.

"Saya menulis ini semata-mata ingin memberitahu semua pihak tentang prosedur penerimaan laporan sesuai hukum yang berlaku. Saya mendesak, Bareskrim Mabes Polri bekerja secara profesional dan tidak membeda-bedakan orang dalam melayani laporan masyarakat," tuntas Yusril.

Sumber : Muslimina